Oleh : Irhas Nugraha
Cikande salah satu kecamatan yang berada diwilayah administrasi kabupaten Serang, kecamatan yang di pimpin oleh bapak Agus S.Sos M.Si mengalami perubahan yang sangat signifikan. Masa kini Cikande berubah menjadi kawasan industri di provinsi Banten dengan beberapa kawasan yang ada di wilayah Cikande yaitu salah satunya kawasan Modern Cikande. Apalagi ada jalan tol Interchage Cikande yang menjadi nilai plus untuk pertumbuhan ekonomi di kecamatan Cikande.
Tidak kalah untuk di masalalu Cikande menjadi wilayah penting dalam kekuasaan Kesultanan Banten bahakan kerajaan Sunda sebelum kesultanan Banten berdiri. Menurut catatan Tom Pires seorang berkebangsaan portugis pada tahun 1512-1515 Banten, merupakan sebuah kota niaga yang baik, terletak di tepi sebuah sungai. Kota ini dikepalai oleh seorang Kapten (Syahbandar), sedangkan wilayah niaganya mencapai Sumatra dan bahkan kepulauan Maladewa. Pelabuhan Banten merupakan pelabuhan besar dan merupakan pula bandar untuk beras, bahan makanan, dan lada.
Salah satu lintasan untuk menuju ke Banten adalah dengan melewati sungai dan pelabuhan yang dikenal dengan cheguide (Cikande), juga sebuah kota besar. Perniagaan dari bandar ini dilakukan dengan Pariaman, Andalas, Tulangbawang, Sekampung, dan lain-lain. Barang dagangannya sama dengan Banten dan Pondang. Hal ini menjadi bukti wilayah Cikande menjadi sebuah wilayah yang penting masa kerajaan Hindu. Bukti yang bisa didapat adalah situs patapan yang berada di Desa eninggalan prasejarah di serang yang tampak lebih muda terdapat di kampung patapan pasir,desa nagara kecamatan cikande, daerah ini lebih di kenal dengan sebutan patapan,situs ini merupakan bangunan terbuka yang di bangun di atas sebuah bukit,di sini juga terdapat batu pelinggih serta lapik atau altar, di perkirakan masa prasejarah ini adalah peninggalan pada jaman megalitikum,karena dari bentuk bangunan yang di temukan terdapat ciri khas bentuk punden yang lazim di jumpai sebagai peninggalan arsitektur bangunan pemujaan tradisi megalitikum.
Secara tertulis tidak ada sumber yang menyebut tentang situs patapan,namun daerah lokasi situs berada yaitu di Cikande (kibin dulu masuk wilayah kec. Cik ande) pernah di sebut dalam catatan portugis, di sebutkan oleh tome pires pada kunjungannya di daerah banten tahun 1513 bahwa cheguede (cikande) merupakan sebuah kota dagang pada masa hindu di bawah kekuasaan pajajaran.
Jika melihat dari segi ekonomi Cikande sudah berperan menjadi wilayah yang mempunyai daya tarik pada masa kerjaan Hindu Budha, zaman berkembang menuju kesultanan Banten pengaruh Hindu Budha mulai terkikis semenjak masuknya kerajaan bercorak islam jadi bagaimana wilayah Cikande yang dikenal sebagai pelabuhan apa fungsi dari wilayah tersebut memasuki era kesultanan Banten?
Menurut penulusuran penulis ada beberapa peristiwa kala Kesultanan Banten di kuasai oleh Belanda dan Inggris salah satu peristiwa Cikande Udik sebelum meletusnya peristiwa Pemberotankan petani 1888. Hal ini terjadi pada Peristiwa-peristiwa pada tahun 1845 akhir itu dikenal sebagai Peristiwa Cikande. Kejadiannya semula tanggal 13 Desember kaum pemberontak merebut rumah Tuan Tanah di Cikande Udik yang kemudian membunuh Tuan Tanah Kamphuys, istri dan lima anaknya. Semua orang Eropa di daerah sekitarnya dibunuh oleh pemberontak. Kecuali tiga anak lainnya dari keluarga Kamphuys diselamatkan oleh Bapak Sarinten, kepala pemberontak. Pengikut pemberontakan semakin lama semakin banyak sehingga mencapai lebih 600 orang. Beberapa pemimpin pemerintah yang dikenal dari perlawanan Cikande ialah: Mas Endong, Mas Rila dari Cikupak dan Mas Ubid dari Kolle, Kyai Gede, Bapak Samini, Amir dari Bayuku yang juga bekerja sama dengan Mas Ubid, Raden Jinten, Pangeran Lamer dan seorang wanita bernama Sarinem (https://sites.google.com/site/nimusinstitut/uka-tjandrasasmita).
Selain peristiwa tersebut ada du srikandi yang berani melawan penjajah Belanda dalam perisitiwa perang Cikande Nyimas Gamparan dikenal dalam perang Cikande. Perang tersebut terjadi sekitar tahun 1829 hingga 1830. Perang tersebut terjadi lantaran Nyimas Gamparan yang memimpin puluhan pendekar wanita menolak Cultuurstelsel (1830) yang diterapkan Belanda kepada penduduk pribumi. Nyimas Gamparan dan puluhan prajurit wanitanya menggunakan taktik perang gerilya untuk menghadapi pasukan Belanda. Pasukan Nyimas Gamparan ini memiliki markas persembunyian di wilayah yang kini disebut Balaraja.
Konon penamaan Balaraja berasal dari pasukan Nyimas Gamparan. Balaraja, tempat singgah para raja (Asal kata Balai dan Raja) dan juga yang menyebutkan tempat berkumpulnya Bala (teman) tentara Raja. Serangan demi serangan yang dilakukan oleh pasukan Nyimas Gamparan membuat Belanda sangat kerepotan. Berbagai cara pun dilakukan untuk menumpas pasukan Srikandi pimpinan Nyimas Gamparan.
Belanda lalu menggunakan politik devide et impera. Raden Tumenggung Kartanata Nagara yang menjadi Demang di wilayah Jasinga, Bogor diminta bantuan untuk menumpas milisi Srikandi ini. Tumenggung Kartanata iming-imingi bakal dijadikan penguasa di daerah Rangkasbitung. Pasukan Ki Demang inilah yang kemudian diadu dengan Pasukan Nyimas Gamparan. Taktik Belanda ini rupanya cukup ampuh. Nyimas Gamparan akhirnya berhasil dikalahkan oleh pasukan Kartanata Nagara. Nyimas Gamparan pun disemayamkan di daerah Pamarayan, Serang-Banten (https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-heroik-pendekar-wanita-banten-nyimas-gamparan-dan-melati.html).
Di awal abad 20 bergeser pada pendudukan Jepang dimana wilayah Cikande menjadi pertahanan udara Jepang di wilayah barat pulau Jawa dengan membangun landasan Udara di Gorda pangkalan Udara Gorda dibangun pada masa invasi Jepang tahun 1942, menempati lahan dengan koordinat 060091.0011 S,1060.21l.00llE. Terdiri dari dua landasan masing-masing panjangnya 2,5 KM, dengan bentuk saling bersilang membujur arah utara-selatan dan barat-timur 1219,627. Lebar landasan 100 meter dan luas kanan kirinya juga memiliki lebar 100 meter. Struktur landasan tersebut sudah diberkas dengan baik, dilapisi lempengan tanah berumput sebagai penyamaran. Menurut sejarawan Univeristas Indonesia M Iskandar, Lanud Gorda dibangun setelah tahun 1943 waktu itu Jepang terdesak sekutu untuk membangunya tenaga romusha dikerahkan banyak yang tewas. (Kompas, 2015, Gorda pintu barat Jawa yang terbengkalai,: http://tataruangpertanahan.com/kliping-1744-gorda-pintu-barat-jawa-yang-terbengkalai.htm). Dalam catatan sejarah TNI AU, pada tanggal 27 Agustus 1946 pernah didarati oleh satu tim penerbang AURI. Pangkalan udara ini oleh Jepang memang diperuntukan sebagai pangkalan udara rahasia semula landasan ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti: perkantoran, hanggar, rumah sakit, pos-pos penjagaan, gudang bahan bakar, gudang senjata, serta kompleks perumahan bagi tentara Jepang.
Daftar Refrensi
Redaksi 2019
Saran dan Kritik
email: surat@irhasnugraha.com